Jumat, 26 April 2013

Waiting... Just Waiting

Diposting oleh Cya di 01.07


Hari itu aku melihatmu berdiri dengan mata berkaca-kaca. Senyum tetap tersungging di bibirmu seperti biasanya, tapi duka menyapa bening matamu.Kau berlama-lama, mengulur waktu untuk melihat segala hal yang akan kau rindukan selama kau pergi, kami, individu-individu yang hidup dalam laut biru. Aku bahkan bisa melihat air mata mengalir di pipimu. Kau, yang selama ini begitu tangguh. Yang menahan segala rasa dan air matamu agar tidak menyusahkan kami, kini tampak begitu rapuh. Aku ingin memelukmu, menenangkanmu, dan menjanjikan bahwa tidak akan ada yang berubah di antara kita. Tapi aku tak mampu. Aku ingin mengutuk segala batas yang memisahkan kita. Hanya untuk kali ini saja aku ingin bisa menghalau segala batas... kali ini saja... untuk benar-benar meyakinkan dan memberimu kekuatan.

Hari itu adalah hari terakhir sebelum kamu pergi, meninggalkan segala gegap gempita sorak sorai dan cemerlangnya sorot lampu. Dan dengan sekat waktu sebagai pembatas yang mengharuskanmu untuk pergi, semakin enggan aku melepasmu. Berat. Mengizinkanmu pergi adalah hal sangat berat. Tapi haruskah aku benar-benar menahanmu agar tetap tinggal? Bisakah aku seegois itu?

"Kumohon jangan pergi!" teriak hatiku. Tapi mulutku bungkam. Hanya bulir-bulir air mata yang mewakili beribu keberatan yang takkan pernah sanggup kuungkapkan.

Selalu. Pada akhirnya ego kutelan sendiri. Yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum. Menahan cekat di tenggorokanku dan menghentikan laju air mataku. Sudah cukup berat bagimu untuk pergi tanpa harus ditambah dengan keegoisanku. Mengantarmu dengan senyum adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan agar hal terakhir yang kau lihat bukanlah air mata.

Aku tahu pasti berat bagimu untuk melangkah pergi dengan segala kekhawatiranmu tentang kami, tentang kalian, tentang kita. Ketakutanmu bahwa selama kau pergi segalanya akan berubah dan menghilang. Kekhawatiranmu bahwa kau akan dilupakan atau bahkan digantikan.

Apa kau tahu kalau ketakutanmu itu bodoh?! Apa yang kau takutkan? Bahwa kami akan pergi? Bahwa semua akan menghilang selama kau pergi? Bagaimana mungkin kau berpikir begitu? Bagaimana mungkin kami beranjak atau bahkan berpaling kalau hanya kau yang kami miliki? Dengarlah bisikku seandainya kau mampu memahaminya. Dengarkanlah janjiku bahwa kami akan menunggumu. Selama ini bukankah kita sudah melalui banyak hal bersama? Masihkah kau meragukan kesetiaan kami? Kumohon, buang pikiranmu itu jauh-jauh. Kami sudah menjanjikan kata "selamanya" padamu. Dan itu bukan omong kosong, bodoh!
Kali ini, pergilah dengan kepala tegak. Tunjukkan pada semua bahwa kamu adalah orang yang pantas untuk dihormati, orang yang sama yang telah mencuri hati kami. Hingga hari dimana kamu kembali, cukup lihatlah dari jauh bahwa banyak orang yang akan menjaga harta yang kamu tinggalkan. Pergilah dengan bangga, sebagaimana kami selalu bangga padamu.


Di atas segala kata, cukup mengertilah satu hal. Bahwa kami akan menunggumu. Pergi dan kembalilah dengan bangga. Dan kita akan merayakan hari dimana kau kembali kepelukan kami. Ingat, kami sudah menjanjikan kata "selamanya" untukmu. Peganglah janji itu erat-erat sebagai ganti sorak sorai kami. Berbanggalah atas pencapaianmu. Kamu tidak pernah membuat kami kecewa, dan kami bangga padamu. Dulu... sekarang... dan selamanya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Confeito Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea