Ah, hari yang dinanti-nantikan tiba.
Saat yang ditunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu kick off diumumkan pun datang. Akhirnya kalian akan kembali ke negeriku tercinta. Kembali untuk menggulung
ombak besar di lautan biru safir.
Bahagia? Jelas aku bahagia. Tak lama lagi akan datang kesempatanku, kesempatan
KITA, untuk bertemu. Saling bertatapan. Langsung!!! Hal yang benar-benar kuidam-idamkan.
Euforia-ku bahkan mengalahkan apa yang seharusnya aku kerjakan. Dan,
YA, aku tahu aku salah... tapi tolong ijinkan aku bergembira untuk saat ini saja.
Aku sudah lama menyiapkan diri untuk datangnya hari itu. Menyiapkan niat, mental, dan banyak hal. Aku tahu aku hampir siap untuk pertemuan kita. Aku tahu. Dan aku
yakin.
Namun, tahukah, di tengah segala euforia-ku terselip khawatir.
"Bisakah aku benar-benar datang besok?"
Seandainya aku hanya perlu memikirkan ego-ku pasti jawabannya, YA. Seandainya aku hanya hidup untuk diriku sendiri.
Tapi ada banyak hal yang harus kupertimbangkan sebelumnya. Banyak hal yang harus segera diselesaikan sebelumnya. Kumohon bersabarlah.... ini bukan berarti aku tidak menyayangi kalian sepenuh hati, tidak... sungguh, kalian adalah bagian dari duniaku dan aku menitipkan sebagian hatiku untuk kalian.
Yang paling membebani pikiranku adalah ijin. Tuhan tahu aku takkan pernah bisa menemui kalian dengan hati yang tenang kalau kepergianku tanpa mendapat restu orangtua. Dan inilah yang paling sulit. Seakan untuk hal yang satu ini duniaku dan dunia orangtuaku itu berlainan. Tidak terhubung. Tidak saling memahami.
Tapi aku tahu bahwa mereka, orangtuaku, menyayangiku sepenuh hati. Dan apapun keputusan mereka nanti, aku tahu mereka lebih memikirkan kepentinganku dibandingkan aku memikirkan kepentinganku sendiri. Karena aku kadang lupa memikirkan apa yang penting bagi diri sendiri saat egoku berkuasa.
Hanya saja, apa yang kita tahu tidaklah selalu sepaham dengan apa yang kita rasakan, kan? Kadang aku bahkan membutuhkan waktu untuk mencerna ke"tahu"anku itu. Kadang aku butuh waktu untuk menerima ke"tahu"anku.
Aku takut.... sangat takut.... dan di sinilah aku. Berada di tengah peperangan antara logika dan ego-ku. Sendiri. Mencoba berteriak untuk mendamaikan mereka namun teriakku tak didengar. Apa yang harus aku lakukan?
"Tuhan, aku ini hanyalah makhlukMu yang lemah.
Yang bahkan galau dan bimbang hanya karena hal-hal kecil.
Tuhan, aku mohon berikanlah jalan yang terbaik untukku. Untuk kami.
Tidak ada satupun yang mampu memberiku kekuatan kecuali Engkau.
Karena itu kupasrahkan padaMu... segalanya...."
Aku tidak tahu masa depan... Mungkin aku akan menyambut kalian dengan penuh bahagia. Atau mungkin aku hanya bisa menelan kecewa dan air mata. Saat ini yang bisa kulakukan hanya berjuang.
Bukankah kita selalu berjuang sampai detik terakhir? Ya, karena itu aku akan berjuang. Sampai detik terakhir!! :))